Sahabat saya ^_^

Pages

Tuesday, May 17, 2011

Cukuplah Allah "Majikan" kita..

Lalalala..Hari-hari kerja !!!! Bosan dengan kerja...

Lalalala..Hidup harus kerja..

Lalalala..

Memang mengena lagu yang dinyanyikan oleh kumpulan Meet Uncle Hussein ini. Kadang-kala kita berasa penat dan bosan dengan pekerjaan yang sedang kita lakukan.

Mahu saja rasanya letak jawatan dan duduk di rumah 'goyang kaki'. Namun, apabila terbayangkan wang ringgit yang amat diperlukan dalam kehidupan, pantas saja digerakkan kaki yang terasa malas dan berat, melangkah ke tempat kerja. Mulut pula mula mengomel, "kalau tak kerja, macam mana la nak hidup..". Inikah makna sebenar kerja pada kita?

Sejak dari kecil lagi, kita diajar membina impian kerjaya oleh ibu dan ayah. Malah, di sekolah juga para guru selalu meniupkan semangat kepada kita agar menjadi seorang yang mempunyai cita-cita. Pertanyaan yang wajib kita dengar saat semakin membesar, "dah besar nanti anak mama nak jadi apa?". Lalu, dari situ kita mula mencipta imaginasi tentang hebatnya untuk menjadi seperti apa apabila dewasa nanti. Tanpa diketahui maksud sebenarnya, lantang saja kita menjawab, "nak jadi doktor!". Kini, tak disangka-sangka cita-cita itu tidak kesampaian walau kita telah melepasi puncak menara gading. Apakan daya, ini rezeki yang Allah tentukan.

Niat Pemangkin Semangat

Tidak berjaya menjadi seperti apa yang kita impikan sememangnya amat mengecewakan. Namun, mestilah diingat bahawa di mana jua kita diletakkan, di situlah rezeki kita dan tempat kita berusaha. Justeru, walau pekerjaan itu bukanlah bertepatan dengan minat kita sendiri, kita seharusnya mempunyai azam untuk bekerja dengan ikhlas, jujur dan memegang amanah tersebut dengan niat kerana Allah. Bukan sekadar bekerja kerana gaji atau lebih tepat lagi seperti yang selalu disebut, "nak hidup punya pasal..".

Setiap apa yang kita lakukan semuanya bermula dengan niat. Niat itulah yang menjadi titik mula bagaimana kita akan memikul tugas yang digalas. Niat bekerja kerana Allah akan memandu setiap perbuatan kita dalam menghasilkan mutu kerja yang cemerlang dan berkualiti. Seperti mana kita menyebut berulang kali Surah al-An'am ayat 162 di dalam solat,

"Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku untuk Allah, Tuhan sekalian Alam".

Kalimah yang kita ucapkan pada Allah dengan bersungguh-sungguh itu perlulah kita ingati ketika menjalankan pekerjaan duniawi. Kerja harus dianggap sebagai ibadah yang dimulakan dengan niat yang baik berserta istiqamah. Sabda Rasul SAW,

"Bahawa Allah mencintai seseorang yang apabila ia mengerjakan sesuatu kerja, ia laksanakan dengan cemerlang." (Hadis riwayat Abu Ya'la)

Dari kita merungut kemalasan dan mengenang nasib di pagi hari saat bangun tidur, adalah lebih baik jika kita berniat untuk bangun bekerja kerana Allah. Sudah pasti badan terasa lebih kuat, minda terasa lapang dan hati terisi dengan semangat yang positif. Simptom seperti makan 'gaji buta' dan 'curi tulang' pasti dapat dielakkan.

Dalam pandangan Islam, bekerja merupakan suatu tugas yang mulia, yang akan membawa diri seseorang pada posisi terhormat, bernilai, baik di mata Allah SWT maupun di mata kaumnya. Oleh sebab itulah, Islam menegaskan bahwa bekerja merupakan sehuah kewajiban yang setingkat dengan Ibadah. Orang yang bekerja akan mendapat pahala sebagaimana orang beribadah. Lantaran manusia yang mau bekerja dan berusaha keras untuk menghidupi diri sendiri dan keluarganya, akan dengan sendirinya hidup tentram dan damai dalam masyarakat .

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Abu Dawud dikisahkan, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW menjumpai seorang sahabat sedang duduk bersimpuh di dalam masjid, ketika semua orang sedang giat bekerja.

Maka Beliaupun bertanya: ”Mengapa engkau berada dalam masjid di luar waktu shalat, wahai Abu Umamah?” Abu Umamah menjawab: ”Saya bersedih lantaran banyak hutang, wahai Rasulullah”. Lantas beliau bersabda: ”Mari Aku tunjukkan kepadamu beberapa kalimat, dan jika engkau membacanya, Allah akan menghapus kesedihanmu dan menjadikan hutangmu terbayar. Bacalah pada waktu pagi dan sore.”

Do’a tersebut, yang artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari susah dan sedih, lemah dan malas, takut dan kikir, serta tertekan hutang dan penindasan orang lain”. (HR. Bukhari)

Selang beberapa waktu, ketika Rasulullah bertemu kembali dengan Abu Umamah, ternyata ia sudah menjadi orang yang periang dan tidak nampak lagi bersedih hati, sementara hutangnyapun sudah dilunasinya.

Lunasnya hutang Abu Umamah itu, secara logika tentunya berkat kerja keras yang dilakukan oleh Abu Umamah itu sendiri, lantaran rasa malas, lemah, jengkel dan sedih yang selama ini melingkupi dirinya telah terusir digantikan oleh semangat dan daya juang yang keras untuk bekerja dan berusaha dalam rangka melunasi seluruh hutang-hutangnya. Jadi mustahil harta atau uang pembayar hutang itu datang dengan sendirinya, jika yang bersangkutan tetap berpangkutangan.

Dalam Firman Allah SWT, yang artinya: “Dialah Dzat yang telah menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunva dan makanlah sebagian rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (Q.S AI-MuIk (67):15)

“Dan Kami jadikan padanva kebun-kebun korma dan anggur, dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supava mereka dapat makan dari buahnva, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?” (Q.S Yaasin(36): 34-35)

Ayat di atas menunjukkan bahawa setiap Muslim sesungguhnya dituntut untuk bekerja keras, dan disarankan untuk menjelajahi bumi Allah yang maha luas ini, dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya, mencari rejeki, menambah pengalaman dan ilmu pengetahuan agar dapat rnencapai kemuliaan hidup baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Adapun mengenai keutamaan bekerja dan keutamaan orang yang giat bekerja keras dijelaskan juga dalam beberapa hadits, yakni sebagai berikut:

”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir dari Anas)

”Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas)

”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud as, selalu
makan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari)

”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

”Apabila kamu selesai shalat fajar (shubuh), maka janganlah kamu tidur meninggalkan rejekimu”. (HR. Thabrani)

”Berpagi-pagilah dalam mencari rejeki dan kebutuhan, karena pagi hari itu penuh dengan berkah dan keherhasilan.” (HR. Thabrani dan Barra’)

“Sesungguhnya Allah Ta‘ala suka melihat hamba-Nya bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal”. (HR. Dailami)

“Sesungguhnya seseorang di antara kamu yang berpagi-pagi dalam mencari rejeki, memikul kayu kemudian bersedekah sebagian darinya dan mencukupkan diri dari (meminta-minta) kepada orang lain, adalah lebih baik ketimbang meminta-minta kepada seseorang, yang mungkin diberi atau ditolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Sebaik-baik nafkah adalah nafkah pekerja yang halal.” (HR. Ahmad)

“Sesungguhnya Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang Mukmin dan berusaha”. (HR. Thabrani dan Baihaqi dari lbnu ‘Umar)

”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad)

Bekerja Adalah Sabilillah

Dalam suatu riwayat dinyatakan bahwa; pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW sedang berjalan bersama dengan para sahahat, tiba-tiha mereka menyaksikan seorang pemuda yang nampak gagah perkasa sedang bekerja keras membelah kayu bakar. Dan para sahahat pun berkomentar: “Celakalah pemuda itu. Mengapa keperkasaannya itu tidak digunakan untuk Sabilillah (jalan Allah)?” Lantas, Rasulullah SAW bersabda “Janganlah kalian berkata demikian. Sesungguhnya bila ia bekerja untuk menghindarkan diri dari meminta-minta (mengemis), maka ia berarti dalam Sabilillah. Dan jika ia bekerja untuk mencari nafkah serta mencukupi kedua orang tuanya atau keluarganya yang lemah, maka iapun dalam Sabilillah. Namun jika ia bekerja hanya untuk bermnegah-megahan serta hanya untuk memperkaya dirinya, maka ia dalam Sabilisy syaithan (jalan setan)”.

Dengan menyimak riwayat hadist tersebut di atas, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa baik atau buruknya serta halal atau haramnya suatu pekerjaan, ternyata ditentukan dari niatnya. Jika kita bekerja dengan maksud untuk menghindarkan diri dari pengangguran misalnya, maka pekerjaan itu baik dan halal. Namun jika tujuan kita bekerja hanya untuk mencari harta serta memperkaya diri sendiri, maka pekerjaan yang kita lakukan itu merupakan pekerjaan hina dan haram, sehingga wajib dijauhi.

Sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah cinta kepada hamba-Nya yang mempunyai hutang usaha, dan siapa saja yang bersusah payah serta bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, lantaran mereka seperti Fi Sabilillah (pejuang dijalan Allah) ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad).


(Sumber: Al ’Amal Fil Islam karya Izzuddin Khatib At Tamimi (terj.) Bisnis Islam, alih bahasa H. Azwier Butun, Penerbit PT Fikahati Aneska Jakarta)

0 comments:

Post a Comment